Halaman

Senin, 29 Oktober 2012

Agamaku Tak dihargai di Myanmar


Di jaman yang modern ini masi saja ada negara yang kuarangnya toletansi terhadap masyarakatnya sediri. Di Myanmar kekerasan yang terjadi terhadap warga muslim  rohingya sangat tidak terima bagi warga Indonesia, terutama perhimpunan pelajar Indonesia (PPI).
Dalam berita “Pelajar RI di Luar Negeri Desak pemerintah Bahas kekerasan Rohingya di ASEAN” menyebutkan bahwa :
Jakarta Perhimpunan pelajar Indonesia (PPI) di luar negeri mengecam segala bentuk kekerasan yang terjadi pada muslim Rohingya di Myanmar. Mereka mendesak pemerintah Indonesia untuk memasukkan isu itu pada pertemuan negara-negara ASEAN.
"Kami berkeyakinan bahwa jaminan hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani merupakan hak mendasar untuk dimiliki oleh setiap manusia di berbagai belahan bangsa yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun," ujar Boy Berawi, Ketua Umum PPI Portugal, dalam rilis pada detikcom, Rabu (1/8/2012). ”
Tindakan PPI sangat baik, masalah ini sebaiknya memang di bicarakan pada saat pertemuan negara-negara ASEAN. Supaya negara-negara lain tahu bahwa masih saja ada kekerasan dikarenakan kurangnya toleransi terhadap agama. Dan masalah ini juga segera di tindak lanjuti supaya tidak ada korban lagi. Karena sebagai pemerintah negara sebaiknya melindungi semua masyarakatnya dan bukan menganiyaya warganya.
Sebagai negara yang demokrasi dan mayoritas di Indonesia penduduknya beragama islam hendaknya pemerintah membantu muslim Rohingya di Myanmar. Karena agama islam mengajarkan sesama muslim hendaknya tolong menolong. Dan pemerintah janganlah hanya berdiam diri dan tutup telinga tentang adanya isu kekerasan di Myanmar.  Karena semua warga negara butuh untuk di lindungi dan iginkan kemerdekaan atas dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar